Selasa, 22 November 2022

Depo Lokomotif Stasiun Kereta Api Purwakarta Dari Masa ke Masa


Stasiun Purwakarta
Sumber: Heritage KAI

Analis Siber Purwakarta - Admin. Sudah menjadi khalayak umum dimana perpindahan penduduk di suatu daerah tidak lepas dari peranan sarana transportasi untuk mengakomodir penduduk berpindah dari suatu daerah ke daerah lainnya. Pada masa modern sekarang, terdapat banyak jenis dan opsi untuk menggunakan layanan transportasi, baik itu menggunakan transportasi secara individu seperti mobil/motor pribadi ataupun menggunakan sarana transportasi publik baik untuk matra darat, laut, ataupun udara.

Salah satu transportasi publik yang berasal dari matra darat adalah kereta api. kereta api merupakan wahana transportasi darat yang berjalan diatas rel, dengan hulu wahana yang disebut dengan lokomotif, dan gerbong sebagai wahana pengangkutan. Kereta api memiliki fungsi tidak hanya untuk mengangkut penumpang saja, melainkan dapat digunakan sebagai pengantar barang yang berisi komoditas tertentu yang nantinya dapat diperjual-belikan, seperti batu bara, pasir, dan lain sebagainya. Saat ini perkembangan teknologi kereta api berkembang sangat cepat, dari semula kereta api ditenagai melalui mesin katel uap, hingga kereta api bertenaga listrik yang dapat bergerak dengan cepat.

Kereta api tercatat masuk di Indonesia pada masa kepemimpinan Gubernur Jendral Hindia Belanda Mr. L.A.J Baron Sloet van de Beele tanggal 17 Juni 1864, khususnya pada pembangunan jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta) di Desa Kemijen yang dilakukan oleh perusahaan swasta Hindia Belanda pada masa itu yakni Naamlooze Venootschap Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) (PT Kereta Api Indonesia (Persero), 2018). Selain dibangun melalui perusahaan swasta, perusahaan negara Hindia Belanda yakni Staatssporwegen (SS) turut ikut serta dalam membangun jalur kereta api pada tanggal 8 April 1875, dimana jalur pertama yang dibangun oleh SS ini meliputi Surabaya-Pasuruan-Malang (PT Kereta Api Indonesia (Persero), 2018).

Kolaborasi antara SS dan NISM dalam membangun jalur kereta api juga mendorong investasi dari pemodal swasta lainnya untuk membangun jalur kereta api di Indonesia, seperti Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS), Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS), Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (Ps.SM), Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM), Probolinggo Stoomtram Maatschappij (Pb.SM), Modjokerto Stoomtram Maatschappij (MSM), Malang Stoomtram Maatschappij (MS), Madoera Stoomtram Maatschappij (Mad.SM), dan Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) (PT Kereta Api Indonesia (Persero), 2018). Selain di pulau Jawa, pemerintah Hindia Belanda juga membangun jalur kereta api di pulau lainnya, semisal pembangunan jalur kereta api di pulau Sumatera dan Sulawesi, sedangkan pembangunan di Kalimantan, Bali, dan Lombok hanya sebatas studi pemasangan rel (PT Kereta Api Indonesia (Persero), 2018).

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, perkereta-apian di Indonesia berubah nama menjadi Rikuyu Sokyuku (Dinas Kereta Api) dan juga berubah fungsinya untuk kebutuhan perang (PT Kereta Api Indonesia (Persero), 2018). Salah satu dari pembangunan jalur kereta api pada masa pendudukan Jepang adalah pembangunan lintas Saketi-Bayah, dan Muaro-Pekanbaru, dimana tujuan dari pembangunan jalur ini adalah untuk mengangkut batu bara sebagai bahan bakar mesin perang Tentara Jepang (PT Kereta Api Indonesia (Persero), 2018).

Alih kepemilikan industri kereta api di Indonesia dimulai sejak pengambilalihan Kantor Pusat Kereta Api Bandung yang diduduki oleh Jepang pada 28 September 1945, hingga kini tanggal 28 September 1945 selalu diperingati sebagai Hari Kereta Api Indonesia sekaligus menandai berdirinya Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKRI) (PT Kereta Api Indonesia (Persero), 2018). Meskipun Belanda sempat datang kembali ke Indonesia pada tahun 1946 dan menggabungkan perusahaan kereta api swasta dan perusahaan negeri milik Belanda menjadi Staatssporwegen/Verenigde Spoorwegbedriff (SS/VS) namun perusahaan tersebut kembali diakusisi oleh Indonesia karena merupakan point dari hasil Konferensi Meja Bundar Desember 1949. Point dari perundingan itu diantaranya adalah pengambil alihan aset-aset milik pemerintah Hindia Belanda termasuk SS/VS dan mengintegrasikan perusahaan itu dengan DKRI menjadi Djawatan Kereta Api (DKA) pada 1950 (PT Kereta Api Indonesia (Persero), 2018).

Perubahaan struktur organisasi, dan upaya meningkatkan pelayanan menyebabkan DKA mengalami beberapa kali terjadi pergantian nama, seperti Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) pada tahun 1950, Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) pada tahun 1971, Perusahaan Umum Kereta Api (PERUMKA) pada tahun 1991, dan PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) pada tahun 1998 (PT Kereta Api Indonesia (Persero), 2018). Hingga kini PT KAI Persero memiliki dua wilayah usaha, yakni Divisi Regional (DIVRE) yang berlokasi di Sumatera dan terdiri dari empat divisi, dan Daerah Operasi (DAOP) yang berlokasi di pulau Jawa dan terdiri dari sembilan daerah operasi (PT Kereta Api Indonesia (Persero), 2018).

Salah satu stasiun yang merupakan bagian Daerah Operasi, khususnya Derah Operasi 2 Bandung adalah Stasiun Purwakarta. Stasiun yang dibangun sejak 1901 dan resmi dibuka pada 27 Desember 1902 ini memiliki lokasi yang strategis, yakni sebagai penghubung antara Batavia, Karawang dan Bandung dan memiliki jalur datar serta dapat bergerak lebih cepat dibandingkan jalur koridor Bandung, Cianjur, Sukabumi dan Bogor yang merupakan jalur perbukitan (Heritage PT Kereta Api Indonesia (Persero), n,d). Selain itu terdapat keuntungan jika melalui Stasiun Purwakarta, yaitu pemerintah Belanda tidak perlu lagi membayar sewa jalur koridor Bogor-Batavia yang dimiliki oleh NISM (Heritage PT Kereta Api Indonesia (Persero), n,d).

Sadar tentang Kabupaten Purwakarta yang memiliki lokasi strategis, maka Belanda turut membangun juga fasilitas bangunan depo kereta api di Kabupaten Purwakarta. Tujuan dibangunnya depo ini adalah berfungsi sebagai bangunan pendukung dan pemeliharaan kereta api pada masa pendudukan Belanda (Nuralia, 2011).

Bangunan depo yang merupakan bagian dari Stasiun Kereta Api Purwakarta mengadaptasi gaya arsitektur Indies atau gabungan dari gaya arsitektur Eropa dan Indonesia (Nuralia, 2011). Gaya arsitektur Eropa dapat dilihat dari desain fasade bangunan ini yang mengadopsi desain Neo-Gothic, sedangkan unsur lokal dapat dilihat dari penggunaan tanah liat sebagai bahan genteng, dan atap tumpang dua yang dapat ditemui di rumah-rumah tradisional khususnya daerah Jawa (Nuralia, 2011). Luas bangunan ini memiliki luas 42 m2 dan berlokasi di sebelah barat laut Stasiun Kereta Api Purwakarta serta dibangun oleh arsitek-arsitek Belanda pada masanya (Nuralia, 2011).

Dari segi konstruksi, tampak depan dari bangunan ini seperti dua bangunan kembar dan saling berhimpitan, namun bangunan ini memiliki dua fungsi yang berbeda bila kita lihat dari dalam. Dua bagian ruangan bangunan ini dipisahkan oleh tiang-tiang tembok/beton yang berjumlah 10 tiang dengan lebar atas 100cm, lebar bawah 133cm, dan tebal 120cm. Bagian timur bangunan ini digunakan sebagai keluar masuknya kereta api, sedangkan bagian barat dari gedung ini kemungiknan digunakan sebagai tempat penyimpanan barang (Nuralia, 2011).

Pada masa sekarang, bangunan ini telah mengalami renovasi dengan mempertahankan arsitektur sebelumnya. Adapun fungsi pemeliharaan kereta yang dilakukan di Depo ini sudah tidak dilakukan lagi. Kegiatan yang terakhir dilakukan pada bangunan ini adalah digunakan sebagai  lokasi syuting Film Gundala karya Joko Anwar (Saraswati, 2019).

Depo stasiun Kabupaten Purwakarta memiliki sejarah yang panjang. Bangunan ini telah menjadi saksi bisu bagaimana perkembangan perkereta apian di Indonesia khususnya daerah Jawa Barat. Semestinya bangunan ini tidak dijadikan sebagai bangunan statis yang tidak memiliki kesan apa-apa, namun hendaknya PT KAI Persero (Tbk) sebagai pengelola bangunan ini sebaiknya lebih memperhatikan potensi-potensi yang terdapat di bangunan ini, seperti membangun museum kereta api agar masyarakat tidak lupa akan sejarah bangunan ini.


Referensi:

Artikel

Nuralia, L. (2011). Bekas Depo Stasiun Purwakarta: Puing-Puing Kemegahan Kolonial Di Purwakarta. Sangkhakala. Vol (XIV) No. 2-2011. 287-301.

Website

  1. Heritage Kereta Api Indonesia. (n.d). Stasiun Purwakarta https://heritage.kai.id/page/Stasiun%20Purwakarta
  2. PT Kereta Api Indonesia (Persero). (2018). Sejarah Perkeretaapian https://www.kai.id/corporate/about_kai/#:~:text=Sejarah%20perkeretaapian%20di%20Indonesia%20dimulai,Beele%20tanggal%2017%20Juni%201864.&text=Pada%20tahun%201942%20Pemerintah%20Hindia%20Belanda%20menyerah%20tanpa%20syarat%20kepada%20Jepang
  3. Saraswati, P, D. (2019). 'Gundala' Lakukan Syuting di Lebih dari 70 Lokasi di Jawa Barat https://hot.detik.com/spotlight/d-4638844/gundala-lakukan-syuting-di-lebih-dari-70-lokasi-di-jawa-barat.

Senin, 07 November 2022

Berkenalan Dengan Gedung Karesidenan Kabupaten Purwakarta

Gedung Karesidenan Kabupaten Purwakarta
Sumber: Badan Penghubung Jawa Barat

Analis Siber Purwakarta - Admin. Penjajahan Belanda dan Jepang di Indonesia memiliki pengaruh secara langsung ataupun tidak langsung baik untuk pemerintah, ataupun masyarakat Indonesia. Meskipun Belanda dan Jepang telah lama meninggalkan Indonesia namun peninggalan dan kebudayaannya masih dapat kita jumpai di sekitar lingkungan kita.

Sejak era VOC pada tahun 1630 Kabupaten Purwakarta dulunya merupakan bagian dari Kabupaten Karawang (Pemkab Purwakarta, 2018). Pada tahun 1830 Purwakarta dijadikan sebagai ibu kota baru Kabupaten Karawang. Dahulu nama “Purwakarta” tidak pernah digunakan, masyarakat umumnya lebih menyebutnya dengan nama “Sindangkasih” (Pemkab Purwakarta, 2018). Hal ini erat kaitannya dengan kondisi masyarakatnya yang ramah tamah (Pemkab Purwakarta, 2018).

Sadar akan segala potensi yang dimiliki di Kabupaten ini, Belanda kemudian membangun sarana infrastruktur, baik untuk kepentingan sipil ataupun militernya. Oleh sebab itu, Kabupaten Purwakarta memiliki sejumlah peninggalan historis yang ditinggalkan oleh Belanda ataupun Jepang. Beberapa contoh dari peninggalan kedua bangsa ini dapat dilihat dari arsitektur-arsitektur gedung pemerintahan, ataupun infrastruktur yang digunakan untuk kepentingan masyarakat.

Jejak pembangunan tersebut dapat kita lihat hingga zaman sekarang, dimana Kabupaten Purwakarta memiliki beragam bangunan peninggalan Belanda maupun Jepang. Beberapa contohnya adalah Gedung Keresidenan, Stasiun Purwakarta, Depo Kereta Api Stasiun Purwakarta, Gedung Kembar, Normaal School atau sekolah guru di komplek UPI PGSD Purwakarta, dan lain sebagainya.

Untuk melaksanakan kegiatan pemerintahan di Kabupaten Purwakarta, maka diperlukan sebuah bangunan yang dapat menunjang kegiatan tersebut. Bangunan tersebut dinamakan Gedung Keresidenan Kabupaten Purwakarta. 

Gedung Karesidenan Kabupaten Purwakarta terletak di Jl. KK Singawinata ini berdiri diatas tanah seluas 3530m2, dan terletak dikoordinat 06° 33′ 543″ Lintang Selatan dan 107° 26′ 803″ Bujur Timur (Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Jawa Barat, (n.d). Gedung ini diresmikan pada tanggal 27 Desember 1902, dan merupakan aset milik pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat (Cagarbudaya Kemendikbud, n.d). 

Gedung yang bersebelahan dengan Taman Air Mancur Sri Baduga ini memiliki desain arsitektur campuran antara arsitektur Eropa dan arsitektur Tionghoa. Jejak arsitektur Tionghoa dapat dilihat dari beberapa bagian bangunan ini, seperti bagian porch atau struktur atap, pagar langkan, dan tiang-tiang bangunan yang terbuat dari kayu, ataupun huruf-huruf Tionghoa yang terdapat diatas bangunan ini dan melambangkan Feng Shui atau arah mata angin (Cagarbudaya Kemendikbud, n.d). Sedangkan untuk arsitektur Belanda sendiri dapat dilihat dari langgam arsitektur yang bercorak Indische Empire Stijl, dan desain tiang berbentuk segi delapan (Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Jawa Barat, (n.d).

Untuk memasuki bangunan ini terdapat dua jalan berupa tangga setinggi 0.5m yang berada di tengah bangunan. Bagian serambi bangunan ini memiliki dua kamar yang terletak dibagian kanan dan kiri bangunan ini. Sedangkan desain jendela bangunan ini menerapkan desain berdaun ganda, dan terdiri dari daun jendela kayu yang disusun secara jalusi (bersap-sap) (Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Jawa Barat, (n.d). 

Selain itu, bangunan ini terdiri dari dua paviliun yang berada di bagian kanan dan kiri bangunan (Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Jawa Barat, (n.d). Antara kedua paviliun ini dihubungkan dengan sebuah koridor terbuka (Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Jawa Barat, (n.d). Sebelah barat bangunan ini juga berdekatan dengan Gedung Sigrong yang biasa dijadikan sebagai penyelenggaraan event daerah.

Bangunan ini telah mengalami beberapa alih fungsi kegunaan dengan tetap mempertahankan arsitektur lamanya. Pada masa pendudukan Jepang, bangunan ini digunakan sebagai markas Honbu Kenpetai atau markas polisi Jepang yang merupakan bagian dari Detasemen Syoji (Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Jawa Barat, (n.d). Untuk saat ini gedung Karesidenan digunakan sebagai kantor Badan Koordinasi Wilayah Purwakarta (Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Jawa Barat, (n.d).

Hanya saja terdapat kekurangan dari pemeliharaan bangunan ini. Diantaranya adalah pagar bangunan yang memiliki bekas-bekas vandalisme. Selain itu dikarenakan fungsinya sebagai kantor Bandan Koordinasi Wilayah Purwakarta, maka pengunjung sipil hanya bisa melihatnya dari luar saja, kecuali bila ada event di Kabupaten Purwakarta.


Daftar Pustaka

  1. Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Jawa Barat. (n.d). Gedung Karesidenan. https://badan-penghubung.jabarprov.go.id/gedung-karesidenan/#:~:text=Gedung%20Karesidenan%20berada%20di%20Jl,26%E2%80%B2%20803%E2%80%B3%20Bujur%20Timur.
  2. Cagar Budaya Kemendikbud. (n.d).  Gedung Karesidenan. http://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/cagarbudaya/detail/PO2016060900397/gedung-karesidenan
  3. Pemkab Purwakarta. (2018). Sejarah Purwakarta. https://purwakartakab.go.id/read/24

Sabtu, 05 November 2022

Pesona Curug Suhada di Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta

Curug Suhada
Sumber: Catur Prihatiningsih via Google Map



Analis Siber Purwakarta - Admin. Keindahan bumi Parahyangan di Indonesia ini memang tidak pernah habis jika kita membahasnya. Keindahan keindahan tersebut membentang dari ujung Provinsi Banten hingga Kabupaten Cirebon, tentu keindahan ini harus dapat kita syukuri dengan cara menjaganya dan memanfaatkannya secara keberlanjutan.  

Kabupaten Purwakarta, sebagai salah satu bagian dari bumi Parahyangan juga memiliki banyak sekali keindahan alam. Sebagai contoh kita mengenal dan mengetahui waduk buatan Jatiluhur yang memberikan manfaat bagi petani sekitar, selain itu terdapat juga waduk Wanayasa yang merupakan sumber air bagi penduduk sekitar.

Kecamatan Sukatani yang terletak di Kabupaten Purwakarta juga memiliki beragam potensi wisata, salah satunya adalah Curug Suhada/Air terjun Suhada. Curug Suhada  berlokasi di Kampung Tajur, Desa Sindanglaya, Kecamatan Sukatani. Curug Suhada merupakan wisata alam berupa kawasan wisata air terjun. Curug Suhada memiliki ketinggian kurang lebih 7 meter, dengan bentuk landasan tanah air terjun yang memanjang secara horizontal.

Sepanjang perjalanan menuju arah Desa Sindanglaya sebagai tempat asal wisata ini pengunjung akan disuguhkan pemandangan kebun ubi kayu, dan area pesawahan. Untuk mengunjungi kawasan wisata kita tidak bisa menggunakan transportasi umum. Pengunjung disarankan menggunakan kendaraan pribadi khususnya kendaraan roda dua dikarenakan tempatnya yang belum dapat diakses oleh angkutan umum daerah ataupun roda empat.

Pengunjung dapat mengkuti rute dengan menggunakan aplikasi peta dengan mengarahkannya menuju SMP Negeri 2 Sukatani. Setelah itu pengunjung harus berjalan kaki sepanjang kurang lebih 200 meter. Rating Google untuk tempat wisata ini dapat dibilang cukup bagus dengan jumlah bintang yang didapatkan adalah 4 dari 5 bintang.

Asal muasal Curug Suhada memiliki kisahnya sendiri. Berdasarkan situs curugsuhada.blogspot.com sejarah penamaan “Suhada” di Curug berasal dari nama tokoh yang meninggal disekitaran kawasan tersebut. Curug Suhada dirintis pada tahun 2016 dimana pembangunannya diprakarsai oleh pemuda yang diketuai oleh Kang Upi. Beliau dan kawan-kawan beserta masyarakat sekitar merintis permulaan kawasan wisata ini, dimulai dari pembuatan situs yang masih berupa blog, membersihkan lingkungan, hingga kampanye melewati jejaring sosial media.

Perkembangan terkini dari Curug Suhada pengunjung juga dapat melakukan kegiatan swa foto. Terdapat beberapa spot menarik yang dapat dijadikan sebagai kenang-kenangan yang sangat berkesan ketika sudah mengunjungi Curug Suhada ini.

Kondisi lingkungan sekitar Curug bisa dikatakan masih terjaga dengan sangat asri, meskipun terdapat juga pembangunan pemukiman masyarakat disekitaran lokasi perjalanan. Pengunjung akan disuguhkan dengan rimbunnya pepohonan yang sangat memanjakan mata. Pemandangan tersebut tentunya akan membayarkan segala penat usaha yang ada ketika akan mengunjungi kawasan wisata ini. 

Terdapat beberapa kekurangan dari lokasi wisata ini seperti jalan kearea lokasi yang masih berupa tanah merah. Kondisi air pada lingkungan Curug ini belum dapat dikatakan jernih karena terdapat sedimen lumpur yang terbawa aliran air. Pemerintah Desa Sindanglaya disarankan agar dapat mensponsori pembangunan wisata Curug Suhada. Hal ini tentu kedepannya akan berguna bagi pendapatan Desa, dan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Sumber: 
https://curugsuhada.blogspot.com/

Menikmati keindahan alam di Tebing Boyer, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta

Matahari Terbenam  dilihat dari Tebing Boyer

Sumber: Pengelola Tebing Boyer

Analis Purwakarta -- Melepas penat setelah melakukan kegiatan pekerjaan rasanya memang pas bila kita berkunjung ke lokasi wisata yang masih terjaga keaslian alamnya. Banyak sekali opsi wisata yang dapat kita pilih apabila memilih destinasi wisata dengan keindahan alam sebagai daya tarik objek wisata.

Membahas potensi wisata di Indonesia memang tidak akan pernah habisnya, khususnya di daerah penulis sendiri yakni Kabupaten Purwakarta. Terdapat banyak sekali potensi alam dan manusia sebagai daya tarik wisata Kabupaten Purwakarta. Untuk contoh di Kecamatan Sukatani sendiri terdapat  beberapa kawasan wisata seperti Curug Suhada, Hidden Valley Hills, Gunung Hejo, Gunung Lembu, Gunung Selasih, dan Tebing Boyer.

Pada artikel ini, penulis akan membahas Tebing Boyer sebagai salah satu dari destinasi wisata di Kecamatan Sukatani. Sejarah Tebing Boyer ini dimulai sejak tahun 1957, dimana dahulu kala Tebing Boyer merupakan tempat penggilingan atau penghancuran batu andesit yang digunakan untuk membangun bendungan Jatiluhur. Adapun pengelolaan Tebing Boyer, dilakukan oleh Karang Taruna Desa setempat. 

Dengan luas kurang lebih 100 hektar, Tebing Boyer merupakan tempat wisata alam yang menyuguhkan panorama indah di Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta. Tebing Boyer merupakan bagian dari Gunung Cilalawi yang tempatnya berada di bagian barat laut gunung ini. Bilamana pengunjung ingin datang ke tempat wisata ini, sebaiknya menggunakan kendaraan roda dua saja, dikarenakan rute perjalanannya yang sempit sehingga tidak nyaman bila diakses oleh kendaraan roda empat.

Pengunjung dapat menggunakan sarana aplikasi peta untuk dapat ke lokasi, adapun alamat lengkap Jl. Kp.Talun No.Desa, Tajursindang, Kec. Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat 41167. Dengan akses jalan berupa jalanan aspal sepanjang 2km. Setelah itu pengunjung harus berjalan kaki, karena lokasinya merupakan area jalan setapak sepanjang 1km.
 
Tiket yang dikenakan kepada pengunjung memiliki harga yang murah. Bila pengunjung menggunakan sepeda motor maka total tiket adalah Rp. 10.000,00 rupiah (Rp.5000,00 untuk tiket masuk, dan Rp.5000,00 untuk tiket parkir). Peraturan bagi pengunjung adalah diharapkan agar dapat membuang sampah pada tempatnya, bila pengunjung membuang sampah secara sembarangan maka konsekuensinya adalah denda.

Tiket Masuk Tebing Boyer

Sumber: https://instagram.com/tebingboyer

Tiket parkir kendaraan bermotor

Sumber: https://instagram.com/tebingboyer

Berkunjung ke tempat wisata ini, pengunjung akan disuguhi dengan hamparan sawah yang luas, dan perkebunan pohon Jati yang dikelola oleh Perum Jasa Tirta II selaku pengelola waduk Jatiluhur. Pengunjung juga dapat melakukan aktivitas perkemahan di sekitaran Tebing Boyer ini, selain itu banyak spot-spot menarik yang dapat digunakan sebagai tempat berswafoto.

Pengunjung dapat menjumpai bangunan sebuah bekas bangunan sejarah berupa benteng dan tembok yang menjulang tinggi. Lokasi Tebing Boyer juga tidak jauh dari kawasan waduk Jatiluhur, maka pengunjung dapat melihat dari kejauhan keindahaan waduk Jatiluhur dari atas bangunan ini. Bila pengunjung datang dari siang menuju sore hari, pengunjung dapat melihat sebuah panorama alam yang indah berupa matahari terbenam dari tempat wisata ini. Fasilitas lain yang disediakan oleh pengelola adalah pondok peristirahatan. Terdapat beberapa pondok untuk beristirahat bagi pengunjung yang kelelahan dalam menempuh perjalanan. 


Salah satu sudut Benteng di area Tebing Boyer

Sumber: https://instagram.com/tebingboyer
 

Satu kekurangan yang dijumpai di tempat wisata ini, pengelola Tebing Boyer seharusnya dapat mengembangkan area wisata dengan memperbaiki jalan bebatuan, dan melakukan kegiatan promosi melalui sosial media. Sehingga diharapkan akses untuk masuk area wisata ini dapat diakses dengan mudah, dan banyak pengunjung yang datang ke Tebing Boyer.